PwC melaporkan bahwa hanya sekitar satu pertiga lembaga keuangan Eropa yang mengharapkan siap menghadapi paket Anti-Pencucian Uang Uni Eropa (European Union’s Anti-Money Laundering) pada tenggat waktu Juli 2027, menurut temuan berdasarkan respons dari lebih dari 500 lembaga di 40 negara. Survei ini menyoroti kesenjangan yang melebar antara ambisi regulasi dan kesiapan operasional, dengan dua pertiga lembaga berisiko ketinggalan dari jadwal penerapan. Tingkat persiapan bervariasi di berbagai yurisdiksi dan sektor ketika Uni Eropa bergerak menuju satu buku aturan dan pengawasan terpusat melalui Otoritas Anti-Pencucian Uang yang baru.
Survei menunjukkan bahwa tingkat persiapan tetap tidak merata meskipun ada kemajuan regulasi. Gianfranco Mautone, Partner di PwC Swiss, mengatakan, “Kesenjangan dalam ekspektasi pengawasan semakin nyata.”
Perbedaan ini menimbulkan tantangan bagi perusahaan yang beroperasi lintas batas, di mana pendekatan regulasi yang berbeda memerlukan kerangka kepatuhan yang paralel. Seiring harmonisasi berlanjut di dalam UE, lembaga harus menyelaraskan proses internal dengan standar yang terus berkembang. Kesenjangan kesiapan mencerminkan besarnya perubahan yang diperlukan, khususnya pada area seperti pelaporan, pemantauan, dan pengelolaan data.
Customer due diligence telah muncul sebagai tantangan operasional utama. Sekitar 40% lembaga memandang persyaratan CDD sebagai terlalu berbasis aturan, sehingga menimbulkan hambatan dalam proses onboarding dan pemantauan.
Perluasan persyaratan data mengungkap celah pada sistem yang ada, terutama ketika informasi harus dikumpulkan, diverifikasi, dan dipelihara di berbagai kanal. Proses ini dapat menjadi sangat intensif sumber daya, terutama untuk perusahaan yang menangani volume klien yang besar. Lebih dari setengah lembaga memperkirakan gangguan operasional yang signifikan, yang menunjukkan bahwa infrastruktur saat ini mungkin belum cukup untuk memenuhi persyaratan baru tanpa perubahan besar.
Sekitar satu pertiga lembaga memperkirakan biaya kepatuhan naik sebesar 10% hingga 30% dalam beberapa tahun mendatang. Kenaikan ini mencerminkan investasi pada sistem, personel, dan proses yang diperlukan untuk memenuhi standar baru. Beban biaya berdampak pada perusahaan besar maupun yang lebih kecil, meskipun dampaknya mungkin lebih terasa bagi lembaga dengan sumber daya yang terbatas. Biaya yang terus meningkat juga memengaruhi keputusan strategis, termasuk apakah akan membangun kapabilitas internal atau mengandalkan penyedia eksternal untuk fungsi kepatuhan.
Survei menunjukkan bahwa 61% bank dan 57% perusahaan manajemen aset dan kekayaan berencana memperkenalkan teknologi baru dalam pemantauan transaksi. Kecerdasan buatan dan analitik lanjutan dipandang sebagai alat untuk meningkatkan deteksi dan efisiensi.
Namun, kualitas data tetap menjadi penghalang utama. Mayoritas perusahaan menyebut adanya masalah dalam tata kelola data dan konsistensi, yang membatasi efektivitas solusi teknologi. Michael Weis, Anti-Financial Crime Leader di PwC Luxembourg, mengatakan, “Uji kuncinya adalah apakah perusahaan dapat menerjemahkan buku aturan baru menjadi model operasi yang dapat diskalakan, didukung oleh fondasi data dan teknologi yang kuat.”
Tanpa data yang andal, sistem AI tidak dapat memberikan hasil yang akurat, sehingga mengurangi potensi manfaat otomatisasi. Ini menciptakan ketergantungan antara infrastruktur data dan adopsi teknologi.
Keyakinan terhadap kerangka AML yang ada berbeda secara signifikan di berbagai wilayah. Di dalam UE, ekspektasi lebih tinggi karena reformasi regulasi yang sedang berlangsung, sementara di luar blok, tingkat keyakinan lebih rendah. Di antara perusahaan asuransi, hanya 7% yang menganggap kerangka AML saat ini efektif. Bank dan manajer aset di luar UE juga melaporkan keyakinan yang rendah, yang mencerminkan perbedaan dalam perkembangan dan penegakan regulasi.
Kesenjangan ini menciptakan kompleksitas tambahan bagi perusahaan yang beroperasi di banyak yurisdiksi, di mana standar dan ekspektasi kepatuhan berbeda.
Temuan menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi tantangan ganda: memenuhi persyaratan regulasi baru sambil tetap menjaga efisiensi operasional. Skala transformasi yang diperlukan memengaruhi sistem, proses, dan struktur organisasi. Lembaga harus mengatasi masalah kualitas data, berinvestasi dalam teknologi, serta mendesain ulang alur kerja agar selaras dengan kerangka AML yang baru. Jika gagal melakukannya, dapat mengakibatkan penundaan, biaya meningkat, dan potensi sanksi regulasi.
Pada saat yang sama, pergeseran menuju kerangka kerja UE yang terpadu menghadirkan peluang untuk standarisasi, yang dalam jangka panjang dapat menyederhanakan kepatuhan. Hasil akhirnya akan bergantung pada seberapa efektif perusahaan mengelola transisi, khususnya di area di mana kendala operasional bertemu dengan ekspektasi regulasi.