Gue baru perhatiin tren yang cukup menarik di pasar: sejak awal 2025, kapitalisasi pasar equity token udah tumbuh hampir 3,5 kali lipat. Ini bukan kebetulan—ini menunjukin pergeseran besar-besaran menuju tokenisasi aset dunia nyata yang dimulai dari infrastruktur lama yang udah ketinggalan zaman.



Jadi begini, pasar saham global itu nilainya lebih dari $150 triliun, tapi sistemnya masih pakai infrastruktur yang dibangun puluhan tahun lalu. Trading cuma bisa 5 hari seminggu, penyelesaian transaksi ribet banget karena banyak perantara, dan akses ke perusahaan-perusahaan dengan growth tinggi? Ya, terbatas hanya untuk investor tertentu aja. Institusi besar kayak NYSE, Nasdaq, sama DTCC udah mulai develop infrastruktur saham yang ditokenisasi untuk solve masalah ini.

Tokenisasi equity sebenarnya bisa solve tiga gap utama di pasar tradisional. Pertama, trading 24/7 non-stop, bukan cuma jam kerja biasa. Saat ini sekitar 11% trading saham AS terjadi di luar jam normal, dan kalau sistemnya support 24 jam, informasi baru bisa masuk ke harga lebih cepat. Kedua, ownership tracking jadi lebih sederhana—nggak perlu melalui broker, clearing house, sama custodian pusat. Dengan blockchain, pemilik bisa langsung track aset mereka, bahkan pakai equity sebagai collateral untuk loan on-chain atau masukin ke liquidity pool untuk generate income. Di pasar tradisional, semua itu butuh multiple intermediaries dan biaya broker yang lumayan. Diperkirakan bisa save $5-10 miliar per tahun untuk industri saham.

Tapi yang paling menarik menurut gue adalah akses ke private market. Regulasi SEC saat ini cukup ketat—investor harus punya net worth $1 juta atau income $200K per tahun untuk akses private offerings. Perusahaan swasta juga harus manage jumlah shareholders biar tetap unregistered. Akibatnya, mayoritas investor hampir nggak punya kesempatan buat invest di startup-startup high-growth sebelum mereka go public.

Tokenisasi buka peluang baru di sini. Struktur yang paling umum sekarang adalah pakai Special Purpose Vehicle (SPV)—SPV hold underlying shares, sementara token represent economic claims terhadap entity itu. Robinhood baru-baru ini announce token OpenAI dan SpaceX untuk qualified users di EU, yang kasih exposure ke dua perusahaan paling dicari dunia. Ini adalah contoh perusahaan modal ventura dan startup yang sebelumnya nggak accessible untuk retail investor.

Tapi ada catch yang penting. Token nggak selalu represent direct ownership—tergantung issuer design. Robinhood token SpaceX misalnya, belum jelas apakah kasih priority rights atau bisa convert ke common shares kalau SpaceX go public. Berbeda dengan preferred vs common stock yang punya jelas liquidation priority, voting rights, dan return characteristics. Tanpa clarity ini, investor susah untuk price dan compare token dari perusahaan yang sama. Jadi banyak tokenized private equity sebenarnya memberikan economic exposure, bukan direct ownership.

Meskipun ada ambiguity struktural ini, demand dari investor terhadap akses private market terus naik. Survey menunjukin sekitar 90% American willing allocate sebagian retirement savings ke private assets, terutama Gen Z dan millennial yang aggressive. Kombinasi ini dengan trend perusahaan stay private lebih lama—ini bikin tokenisasi equity jadi increasingly relevant. Bukan hanya soal 24/7 trading atau mengurangi friction, tapi tentang democratizing akses ke peluang yang sebelumnya exclusive untuk contoh perusahaan modal ventura tier-1 dan institutional investors. Perubahan ini bakal reshape cara orang build financial ownership di era blockchain.
SPCX0,06%
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
Tambahkan komentar
Tambahkan komentar
Tidak ada komentar
  • Sematkan