Emas Melonjak di Tengah Ketidakpastian Perdagangan dan Risiko Geopolitik - Analisis dari Barchart

Menurut analisis pasar Barchart, harga emas telah mengalami momentum kenaikan yang signifikan, didorong oleh konvergensi tantangan makroekonomi dan ketegangan geopolitik. Eskalasi terbaru dalam kebijakan perdagangan global, dikombinasikan dengan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter di seluruh dunia, menciptakan lingkungan yang menguntungkan bagi logam mulia saat investor mencari perlindungan dari volatilitas dolar dan ketidakpastian ekonomi.

Rally Logam Mulia Saat Dolar Melemah dan Permintaan Safe-Haven Meningkat

Emas COMEX April ditutup naik 144,70 poin, mewakili kenaikan 2,85%, sementara perak COMEX Maret melonjak 4,230 poin atau 5,14%. Pergerakan ini membawa harga emas ke level tertinggi dalam 3 minggu dan perak ke level tertinggi dalam 2 minggu, dengan rally didorong terutama oleh melemahnya indeks dolar (DXY), yang turun 0,10% hari itu. Penurunan nilai dolar membuat emas yang dihitung dalam mata uang AS menjadi lebih menarik bagi investor asing, sekaligus menandakan tekanan ekonomi yang mendasari yang biasanya mendukung logam mulia sebagai alternatif dari aset dolar tradisional.

Selain dinamika mata uang, beberapa faktor telah selaras mendukung kenaikan harga emas. Perintah eksekutif terbaru dari Presiden Trump, yang meningkatkan tarif global menjadi 15% dari sebelumnya 10% setelah Mahkamah Agung menolak kerangka tarif “reciprocal”-nya, telah memperbesar ketidakpastian tentang kebijakan perdagangan dan dampaknya terhadap ekonomi. Perubahan kebijakan ini mendorong investor untuk menilai ulang alokasi portofolio mereka dan mengurangi eksposur terhadap aset denominasi dolar demi penyimpanan nilai nyata seperti emas.

Ekspektasi Pemotongan Suku Bunga Federal Reserve dan Dinamika Mata Uang Internasional

Konteks pasar mata uang yang lebih luas menunjukkan adanya trajektori kebijakan moneter yang bersaing yang mendukung harga emas. Pasar swap saat ini memperhitungkan sekitar 5% kemungkinan Federal Reserve akan memotong suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC 17-18 Maret. Lebih penting lagi, ekspektasi pasar menunjukkan bahwa Fed akan melakukan pemotongan suku bunga kumulatif sekitar 50 basis poin sepanjang 2026, sementara Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dan Bank Sentral Eropa diperkirakan akan mempertahankan sikap saat ini.

Perbedaan kebijakan moneter ini—dengan AS menuju kebijakan akomodasi sementara ekonomi utama lainnya mengetatkan atau tetap stabil—menekan dolar ke bawah, menciptakan kondisi yang mendukung apresiasi emas. Mendukung outlook ini, Indeks Aktivitas Nasional Chicago Fed naik 0,39 menjadi 0,18, tertinggi dalam 9 bulan, melampaui ekspektasi 0,01, sementara outlook manufaktur Dallas Fed membaik 1,4 poin menjadi 0,2, tertinggi dalam 7 bulan dan jauh melampaui perkiraan -0,5. Sinyal ekonomi yang beragam ini, di tengah ketidakpastian kebijakan, memperkuat argumen bahwa emas adalah lindung nilai dan alat diversifikasi.

Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan bahwa dukungannya terhadap pemotongan suku bunga bergantung pada data pasar tenaga kerja Februari, menyoroti sifat kebijakan yang bersyarat. Ketergantungan data ini menambah kompleksitas bagi trader dolar dan memperkuat permintaan emas sebagai lindung inflasi dan penyangga ketidakpastian ekonomi.

Eskalasi Tarif dan Permintaan Safe-Haven Dorong Harga Emas Lebih Tinggi

Ketegangan geopolitik memberikan dorongan tambahan bagi logam mulia. Kekhawatiran terkait hubungan AS-Iran meningkat setelah Presiden Trump menyatakan bahwa negosiasi kesepakatan nuklir akan terbatas selama 10-15 hari, menimbulkan bayangan konflik potensial dan pengeluaran militer. Eskalasi risiko geopolitik ini, dikombinasikan dengan ketegangan di Ukraina, Venezuela, dan ketidakstabilan di Timur Tengah secara lebih luas, mendorong investor untuk memindahkan modal ke aset keras seperti emas yang secara historis berfungsi sebagai investasi safe-haven selama masa gejolak politik.

Gabungan ketidakpastian kebijakan perdagangan, volatilitas mata uang, dan risiko geopolitik menciptakan latar makro yang kuat mendukung fundamental emas. Defisit federal AS yang besar dan pertanyaan tentang implementasi kebijakan pemerintah semakin mendorong investor untuk mengalihkan kepemilikan dari aset dolar ke logam mulia, menganggap emas sebagai penyimpan nilai yang lebih stabil di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi.

Dukungan Bank Sentral dan Likuiditas Tingkatkan Fundamental Emas

Dari sisi penawaran dan permintaan, emas mendapatkan dukungan kuat dari akumulasi oleh bank sentral. Data terbaru menunjukkan bahwa People’s Bank of China (PBOC) meningkatkan cadangan emasnya sebesar 40.000 ons menjadi 74,19 juta troy ons pada Januari—menandai bulan kelima belas berturut-turut peningkatan cadangan. Permintaan berkelanjutan dari bank sentral dari ekonomi kedua terbesar di dunia ini menunjukkan kepercayaan institusional terhadap nilai emas dan memberikan dukungan struktural terhadap harga.

Selain itu, pengumuman Federal Reserve pada 10 Desember tentang injeksi likuiditas sebesar 40 miliar dolar AS per bulan ke sistem keuangan AS telah memperluas kondisi moneter dan meningkatkan preferensi investor terhadap emas sebagai penyimpan nilai di tengah peningkatan jumlah uang beredar. Dana yang diperdagangkan di bursa emas (ETF) mengikuti selera institusional ini, dengan posisi panjang dalam ETF emas mencapai level tertinggi dalam 3,5 tahun per 28 Januari, menunjukkan permintaan dana yang kuat meskipun volatilitas baru-baru ini.

Dinamika Pasar dan Pertimbangan Volatilitas Harga

Pasar emas belum sepenuhnya mengalami tren kenaikan yang mulus. Harga sempat anjlok dari rekor tertinggi pada 30 Januari ketika Presiden Trump mengumumkan nominasi Keven Warsh sebagai Ketua Federal Reserve baru, memicu likuidasi besar posisi panjang. Warsh, yang dikenal sebagai salah satu kandidat yang lebih hawkish, dipandang kurang cenderung mendukung pemotongan suku bunga agresif—dinamika ini sempat membalik rally logam mulia.

Selain itu, volatilitas pasar yang tinggi di logam mulia telah mendorong bursa perdagangan global untuk meningkatkan margin requirement untuk posisi emas dan perak, yang menyebabkan terjadinya likuidasi paksa. Kepemilikan perak dalam ETF, yang mencapai level tertinggi dalam 3,5 tahun pada 23 Desember, kemudian menurun ke level terendah dalam 3,25 bulan terakhir per Jumat lalu, mencerminkan re-pricing akibat volatilitas ini.

Meski tekanan ini muncul sesekali, latar struktural untuk emas tetap mendukung. Kelemahan mata uang, divergensi kebijakan moneter, ketidakpastian kebijakan terkait tarif dan perdagangan, ketegangan geopolitik, dan akumulasi oleh bank sentral secara kolektif menciptakan lingkungan di mana apresiasi emas semakin masuk akal dari perspektif makro dan taktis.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan