Evolusi Wall Street: Dari Pusat Keuangan Menjadi Simbol Global

ウォール街 tidak hanya sekadar jalan di Manhattan, New York, tetapi telah berkembang menjadi simbol dari sistem keuangan dunia itu sendiri. Nama ini berasal dari tembok kayu yang dibangun oleh penjajah Belanda pada tahun 1653, yang kemudian menyaksikan ratusan tahun kemakmuran dan krisis ekonomi.

Asal Usul Wall Street dan Perjalanannya Menuju Pusat Keuangan

Sejarah Wall Street sangat terkait dengan perkembangan ekonomi Amerika sendiri. Awalnya, daerah ini dikenal sebagai pusat perdagangan. Pada abad ke-18, memanfaatkan keunggulan dekat pelabuhan New York, aktivitas para pedagang menjadi semakin aktif. Pada tahun 1792, terjadi titik balik. Empat puluh empat broker dan pedagang berkumpul di bawah pohon boxwood di Wall Street dan menandatangani “Perjanjian Buttonwood”. Kesepakatan bersejarah ini menetapkan dasar sistem komisi perdagangan sekuritas dan menjadi fondasi bagi terbentuknya New York Stock Exchange (NYSE).

Pada 8 Juli 1889, Charles Dow, Edward Jones, dan Charles Bergstresser menerbitkan Wall Street Journal. Awalnya merupakan surat kabar sore berjumlah 4 halaman, namun dari ide Dow muncul “Dow Jones Industrial Average (DJIA)”, yang menjadi tolok ukur mewakili seluruh pasar saham dan hingga kini berfungsi sebagai indikator suhu pasar keuangan.

Pada tahun 1817, organisasi yang menjadi cikal bakal NYSE mendapatkan nama resmi. Pada tahun 1865, mereka membangun fasilitas khusus pertama di sudut Wall Street dan Broadway. Gedung utama NYSE saat ini di 18 Broad Street, dibangun pada tahun 1903 dengan arsitektur neo-klasik, tetap menjadi simbol kekuasaan finansial hingga saat ini.

Pengaruh Wall Street terhadap Ekonomi dan Budaya

Pengaruh Wall Street tidak terbatas pada bidang ekonomi. Film seperti “Wall Street”, “Margin Call”, dan “Boiler Room” menggambarkan dunia transaksi cepat dan bernilai tinggi yang berlangsung di sini, membentuk citra Wall Street di mata masyarakat. Tokoh-tokoh seperti Warren Buffett, Jamie Dimon, George Soros, dan Larry Fink menjadi ikon budaya sekaligus ekonomi.

Kekuatan dan elitisme yang diwakili Wall Street sering dikaitkan dengan “kecurangan”. Terutama saat krisis ekonomi, Wall Street menjadi sasaran kemarahan masyarakat. Pada krisis keuangan global 2007-2008, perilaku tidak etis lembaga keuangan di sini dikritik keras karena dianggap menyebabkan krisis ekonomi secara keseluruhan.

Krisis Bersejarah yang Mengguncang Wall Street

Pada 16 September 1920, tepat tengah hari, sebuah bom kereta kuda meledak di depan kantor J.P. Morgan & Co. di 23 Wall Street. Ini menjadi insiden pengeboman domestik terburuk dalam sejarah Amerika saat itu, menewaskan 40 orang dan melukai lebih dari 300. Peristiwa ini menegaskan kepada dunia bahwa Wall Street adalah simbol kapitalisme Amerika.

Pada 24 Oktober 1929, pasar saham dibuka lebih rendah dari sesi sebelumnya. Dalam sembilan hari, DJIA turun 89% dari puncaknya di September. Kejatuhan besar ini memicu Great Depression, menyebabkan satu dari empat tenaga kerja Amerika kehilangan pekerjaan, dan ekonomi Eropa pun runtuh secara berantai. Pengalaman ini mengubah hubungan seluruh generasi dengan pasar keuangan secara mendasar.

Pada 19 Oktober 1987, dikenal sebagai “Black Monday”, indeks S&P 500 dan DJIA kehilangan lebih dari 25% dalam 24 jam. Program komputer otomatis yang menjual secara massal menyebabkan transaksi besar-besaran, dan akhirnya bursa memperkenalkan aturan circuit breaker untuk membatasi volatilitas.

Krisis keuangan 2007-2008 disebabkan oleh pelonggaran regulasi, pemberian kredit berlebihan, dan praktik pinjaman rumah yang predatoris. Keruntuhan pasar subprime mortgage menyebabkan derivatif yang dibangun di atasnya jatuh tajam, bank dan bank investasi berada di ambang kehancuran. Pemerintah AS menyelamatkan institusi keuangan yang terlalu besar untuk gagal, dan seluruh ekonomi dunia menghadapi krisis terburuk sejak 1929.

Reformasi Regulasi dan Perubahannya terhadap Wall Street

Dari pelajaran krisis 1929, disahkan Securities Act tahun 1933 dan Securities Exchange Act tahun 1934. Yang terakhir mendirikan Securities and Exchange Commission (SEC) dan memberi kekuasaan regulasi besar terhadap industri keuangan. Namun, regulasi ini tidak mampu mengikuti kecepatan inovasi keuangan di tahun 2000-an.

Setelah krisis 2008, Kongres mengesahkan Dodd-Frank Wall Street Reform and Consumer Protection Act, memperkenalkan aturan Volcker yang membatasi praktik berisiko lembaga keuangan, mengatur pasar derivatif, dan menuntut standar ketat bagi lembaga penilai kredit. Tujuannya mencegah krisis berikutnya.

Namun, pada 2018, Presiden Trump mengesahkan “Economic Growth, Regulatory Relief, and Consumer Protection Act” yang melonggarkan sebagian ketentuan Dodd-Frank, mengecualikan bank kecil di bawah 10 miliar dolar dari aturan Volcker dan mengurangi persyaratan modal. Pergerakan regulasi ini menunjukkan bahwa dunia Wall Street selalu bergantung pada keseimbangan antara kebijakan politik dan kepentingan ekonomi.

2011: Perlawanan Demokratis di Wall Street

Pada September 2011, saat pemulihan dari krisis 2007-2008, gerakan “Occupy Wall Street” dimulai dari Zuccotti Park di Manhattan. Ratusan demonstran menggelar kamp selama hampir dua bulan, menuntut ketidakadilan distribusi pendapatan, reformasi bank, dan pengurangan pengaruh korporasi dalam politik. Slogan “We are the 99%” menjadi simbol kemarahan rakyat terhadap kekayaan 1% yang menguasai Wall Street. Gerakan ini membuktikan bahwa Wall Street bukan lagi sekadar pusat ekonomi, tetapi juga pusat diskusi ketidaksetaraan sosial dan keadilan ekonomi.

Wall Street dan Main Street: Dunia yang Berkonflik

Selalu ada kontras antara Wall Street dan Main Street. Main Street melambangkan usaha kecil, investor individu, dan pekerja umum, sementara Wall Street mewakili perusahaan besar dan lembaga keuangan besar. Kontras ini bukan sekadar kategori ekonomi, tetapi mencerminkan distribusi kekayaan dan kekuasaan di masyarakat Amerika serta arah bertentangan dari kepentingan ekonomi.

Kesimpulan: Masa Kini dan Masa Depan Wall Street

Saat ini, keberadaan fisik Wall Street sebagai lokasi utama berkurang. Globalisasi dan digitalisasi membuat lembaga keuangan tersebar di seluruh dunia, dan transaksi dilakukan secara instan melalui pusat data. Namun, istilah “Wall Street” semakin penting sebagai simbol. Ia bukan sekadar representasi geografis, melainkan merujuk pada sistem keuangan Amerika dan dunia, kekuasaan yang terkumpul di dalamnya, serta pengambilan keputusan ekonomi yang muncul dari sana.

NYSE dan Federal Reserve Bank of New York tetap berpusat di wilayah ini, dan banyak institusi keuangan terbesar dunia berkantor di sini. Perusahaan raksasa seperti Amazon, Google, Apple, dan Exxon yang terdaftar di NYSE menunjukkan bahwa Wall Street tetap menjadi pusat ekonomi global. Peristiwa di sini terus mempengaruhi tidak hanya Amerika, tetapi juga seluruh ekonomi dunia. Reformasi regulasi yang muncul dari krisis bersejarah ini tetap menjadi pengatur utama perilaku keuangan dan akan terus menjadi pusat diskusi kebijakan ekonomi di masa depan.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)