Teman-teman yang baru memperhatikan pasar kripto, pasti sudah menyadari fenomena menarik—para raksasa Wall Street yang mengelola aset angka astronomis, ternyata beroperasi lebih kacau daripada trader ritel. Mengamati pergerakan institusi seperti BlackRock, sudah lama menjadi indikator utama untuk arus balik arbitrase dana cerdas.
Operasi Bertentangan BlackRock: Penjualan Bitcoin dalam angka ribuan, Penutupan posisi Ethereum dalam angka puluhan ribu
Mengelola aset sebesar 10 triliun dolar, BlackRock adalah perusahaan pengelola aset terbesar di dunia. Tapi performa investasi kripto dari raksasa ini, bisa dibilang contoh utama “menggali” yang patut dipelajari.
Saat BTC berfluktuasi di sekitar 90.000 dolar, para investor ETF Bitcoin di bawah naungan BlackRock, justru menjual dalam jumlah besar saat harga relatif rendah. Data on-chain menunjukkan mereka menjual dalam skala empat digit. Untuk Ethereum bahkan lebih ekstrem—langsung menjual dalam lima digit.
Dan sekarang, pertengahan Februari 2026, BTC diperdagangkan di 70.060 dolar, turun 0.46% dalam 24 jam; ETH di 2.110 dolar, naik 1.24% dalam 24 jam. Rentang harga seperti ini seharusnya menjadi waktu yang baik bagi institusi untuk menambah posisi, tapi logika operasi BlackRock jelas berbeda.
Setiap kali Trump mengeluarkan tweet tentang kebijakan, atau Federal Reserve memberi sinyal dovish, para “elite investor” Wall Street ini seperti diberi adrenalin, langsung masuk untuk membeli. Tapi begitu data CPI lebih rendah dari perkiraan, atau ketua Fed Powell menunjukkan perubahan sikap, mereka langsung kabur lebih cepat dari kelinci. Operasi ini, membeli saat naik dan menjual saat turun, jauh lebih ekstrem daripada perilaku trader ritel yang sering kita kritik.
“Gali” di Wall Street: Bagaimana logika keuangan tradisional mencemari pasar kripto
Inti masalahnya adalah, institusi Wall Street yang mengelola dana besar ini, sepenuhnya memahami aset kripto dengan kerangka keuangan tradisional. Mereka memperlakukan Bitcoin seperti saham teknologi untuk diperdagangkan, dan Ethereum sebagai instrumen investasi alternatif berisiko tinggi. Pola pikir ini, sudah pasti akan membuat mereka terjebak dalam lingkaran “menggali” yang aneh.
Hasilnya adalah situasi yang kita lihat sekarang—pergerakan harga BTC dan ETH semakin berkorelasi dengan indeks Nasdaq. Saat saham AS naik, pasar kripto ikut naik; saat saham koreksi, aset kripto pun turun. Narasi besar tentang “emas digital”, “perlawanan desentralisasi”, “alat lindung nilai”, yang dulu besar, kini tampak semakin pudar di hadapan dana institusi.
Wall Street memang membawa likuiditas besar, itu tidak bisa disangkal. Tapi mereka juga membawa penyakit lama dari keuangan tradisional—pandangan sempit, emosional, mudah diprovokasi berita. Pasar kripto yang dulu didorong oleh keyakinan dan teknologi, perlahan berubah menjadi pelengkap pasar saham AS, dan menjadi penguat emosi Wall Street.
Pemikiran di dunia kripto tidak lagi efektif, keputusan Federal Reserve menjadi faktor penentu harga baru
Apa arti perubahan ini? Artinya, jika Anda masih menggunakan logika tradisional di dunia kripto untuk berinvestasi, Anda berisiko mengalami kerugian besar. Karena yang menentukan keuntungan dan kerugian Anda sekarang bukan lagi teknologi blockchain tertentu, atau prospek ekosistem tertentu, melainkan keputusan suku bunga Fed, data ketenagakerjaan, dan ekspektasi inflasi—faktor makro ekonomi.
Keterikatan pasar kripto dengan keuangan tradisional sudah menjadi kenyataan. Ini hasil dari masuknya dana institusi, dan juga tanda pasar semakin matang. Tapi, bagi investor, ini berarti mereka harus menyesuaikan kerangka analisis dan strategi operasinya.
Peluang arbitrase balik: Temukan ruang “menggali” dari “menggali” untuk mendapatkan keuntungan
Tapi segala sesuatu punya sisi lain. Karena institusi Wall Street mudah terjebak dalam lingkaran emosional, dan mudah dipengaruhi berita serta kebijakan Fed, maka dana cerdas memiliki peluang arbitrase balik yang sangat baik.
Setiap kali BlackRock dan perusahaan pengelola dana besar lainnya panik dan menjual secara kolektif, itu sering menjadi sinyal bahwa pasar akan segera mencapai titik terendah. Saat ETF BlackRock dijual dalam jumlah besar, justru itu bisa menjadi waktu terbaik untuk masuk. Amati perilaku “menggali” mereka, temukan pola, dan buat keputusan yang berlawanan.
Ini bukan perjudian, melainkan analisis rasional terhadap pola perilaku pelaku pasar. Operasi besar institusi biasanya membutuhkan waktu, dan di proses ini tersimpan peluang yang bisa dikenali dan dimanfaatkan dana cerdas. Dengan mengikuti aliran dana dari BlackRock dan perusahaan besar lainnya, serta membangun indikator balik, kita berpotensi lebih cepat mengenali titik balik pasar daripada Wall Street.
Uang dari Wall Street memang jauh lebih besar daripada uang ritel. Tapi, “kecil” ini justru menjadi peluang terbaik bagi dana cerdas untuk meraup keuntungan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Apakah institusi mulai membeli di puncak daripada di dasar? Aliran dana ETF BlackRock mengungkapkan kebuntuan yang dihadapi Wall Street
Teman-teman yang baru memperhatikan pasar kripto, pasti sudah menyadari fenomena menarik—para raksasa Wall Street yang mengelola aset angka astronomis, ternyata beroperasi lebih kacau daripada trader ritel. Mengamati pergerakan institusi seperti BlackRock, sudah lama menjadi indikator utama untuk arus balik arbitrase dana cerdas.
Operasi Bertentangan BlackRock: Penjualan Bitcoin dalam angka ribuan, Penutupan posisi Ethereum dalam angka puluhan ribu
Mengelola aset sebesar 10 triliun dolar, BlackRock adalah perusahaan pengelola aset terbesar di dunia. Tapi performa investasi kripto dari raksasa ini, bisa dibilang contoh utama “menggali” yang patut dipelajari.
Saat BTC berfluktuasi di sekitar 90.000 dolar, para investor ETF Bitcoin di bawah naungan BlackRock, justru menjual dalam jumlah besar saat harga relatif rendah. Data on-chain menunjukkan mereka menjual dalam skala empat digit. Untuk Ethereum bahkan lebih ekstrem—langsung menjual dalam lima digit.
Dan sekarang, pertengahan Februari 2026, BTC diperdagangkan di 70.060 dolar, turun 0.46% dalam 24 jam; ETH di 2.110 dolar, naik 1.24% dalam 24 jam. Rentang harga seperti ini seharusnya menjadi waktu yang baik bagi institusi untuk menambah posisi, tapi logika operasi BlackRock jelas berbeda.
Setiap kali Trump mengeluarkan tweet tentang kebijakan, atau Federal Reserve memberi sinyal dovish, para “elite investor” Wall Street ini seperti diberi adrenalin, langsung masuk untuk membeli. Tapi begitu data CPI lebih rendah dari perkiraan, atau ketua Fed Powell menunjukkan perubahan sikap, mereka langsung kabur lebih cepat dari kelinci. Operasi ini, membeli saat naik dan menjual saat turun, jauh lebih ekstrem daripada perilaku trader ritel yang sering kita kritik.
“Gali” di Wall Street: Bagaimana logika keuangan tradisional mencemari pasar kripto
Inti masalahnya adalah, institusi Wall Street yang mengelola dana besar ini, sepenuhnya memahami aset kripto dengan kerangka keuangan tradisional. Mereka memperlakukan Bitcoin seperti saham teknologi untuk diperdagangkan, dan Ethereum sebagai instrumen investasi alternatif berisiko tinggi. Pola pikir ini, sudah pasti akan membuat mereka terjebak dalam lingkaran “menggali” yang aneh.
Hasilnya adalah situasi yang kita lihat sekarang—pergerakan harga BTC dan ETH semakin berkorelasi dengan indeks Nasdaq. Saat saham AS naik, pasar kripto ikut naik; saat saham koreksi, aset kripto pun turun. Narasi besar tentang “emas digital”, “perlawanan desentralisasi”, “alat lindung nilai”, yang dulu besar, kini tampak semakin pudar di hadapan dana institusi.
Wall Street memang membawa likuiditas besar, itu tidak bisa disangkal. Tapi mereka juga membawa penyakit lama dari keuangan tradisional—pandangan sempit, emosional, mudah diprovokasi berita. Pasar kripto yang dulu didorong oleh keyakinan dan teknologi, perlahan berubah menjadi pelengkap pasar saham AS, dan menjadi penguat emosi Wall Street.
Pemikiran di dunia kripto tidak lagi efektif, keputusan Federal Reserve menjadi faktor penentu harga baru
Apa arti perubahan ini? Artinya, jika Anda masih menggunakan logika tradisional di dunia kripto untuk berinvestasi, Anda berisiko mengalami kerugian besar. Karena yang menentukan keuntungan dan kerugian Anda sekarang bukan lagi teknologi blockchain tertentu, atau prospek ekosistem tertentu, melainkan keputusan suku bunga Fed, data ketenagakerjaan, dan ekspektasi inflasi—faktor makro ekonomi.
Keterikatan pasar kripto dengan keuangan tradisional sudah menjadi kenyataan. Ini hasil dari masuknya dana institusi, dan juga tanda pasar semakin matang. Tapi, bagi investor, ini berarti mereka harus menyesuaikan kerangka analisis dan strategi operasinya.
Peluang arbitrase balik: Temukan ruang “menggali” dari “menggali” untuk mendapatkan keuntungan
Tapi segala sesuatu punya sisi lain. Karena institusi Wall Street mudah terjebak dalam lingkaran emosional, dan mudah dipengaruhi berita serta kebijakan Fed, maka dana cerdas memiliki peluang arbitrase balik yang sangat baik.
Setiap kali BlackRock dan perusahaan pengelola dana besar lainnya panik dan menjual secara kolektif, itu sering menjadi sinyal bahwa pasar akan segera mencapai titik terendah. Saat ETF BlackRock dijual dalam jumlah besar, justru itu bisa menjadi waktu terbaik untuk masuk. Amati perilaku “menggali” mereka, temukan pola, dan buat keputusan yang berlawanan.
Ini bukan perjudian, melainkan analisis rasional terhadap pola perilaku pelaku pasar. Operasi besar institusi biasanya membutuhkan waktu, dan di proses ini tersimpan peluang yang bisa dikenali dan dimanfaatkan dana cerdas. Dengan mengikuti aliran dana dari BlackRock dan perusahaan besar lainnya, serta membangun indikator balik, kita berpotensi lebih cepat mengenali titik balik pasar daripada Wall Street.
Uang dari Wall Street memang jauh lebih besar daripada uang ritel. Tapi, “kecil” ini justru menjadi peluang terbaik bagi dana cerdas untuk meraup keuntungan.