Perkembangan terbaru menunjukkan peningkatan ketegangan perdagangan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Pemerintah Korea Selatan mengumumkan bahwa duta perdagangannya akan segera mengunjungi AS untuk membicarakan dampak dari keputusan tarif baru yang baru saja diumumkan oleh Presiden Trump.
Trump Naikkan Tarif pada Produk Korea Selatan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada 27 Januari peningkatan besar dalam tarif impor dari Korea Selatan. Kebijakan ini merupakan reaksi Trump atas kegagalan Majelis Nasional Korea Selatan dalam meratifikasi kesepakatan perdagangan yang telah disepakati sebelumnya.
Trump menyatakan bahwa tarif pada produk-produk Korea Selatan akan dinaikkan dari 15 persen menjadi 25 persen. Produk yang terdampak meliputi sektor strategis seperti otomotif, kayu, industri farmasi, dan berbagai barang manufaktur lainnya. Keputusan ini menjadi langkah paling agresif Trump dalam menghadapi negara sekutu tradisional AS di kawasan Asia Timur.
Latar Belakang Kesepakatan yang Belum Diratifikasi
Perselisihan ini bermula dari kesepakatan perdagangan yang ditandatangani antara Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung pada 30 Juli 2025. Kesepakatan ini didukung lebih lanjut saat Trump mengunjungi Korea Selatan pada 29 Oktober 2025 untuk menegaskan komitmen kedua belah pihak. Namun, Majelis Nasional Korea Selatan sampai saat ini belum meloloskan pengesahan atas perjanjian bersejarah tersebut.
Trump mengkritik penundaan ini, menganggapnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kesepakatan yang telah dicapai secara bilateral. Ketegangan ini mencerminkan dinamika perdagangan global yang semakin kompleks, di mana negara maju saling menggunakan tarif sebagai instrumen negosiasi.
Kunjungan Diplomatik Korea Selatan
Menghadapi eskalasi tarif ini, Korea Selatan memilih jalur diplomasi dengan mengutus duta perdagangannya untuk mengunjungi Washington. Tujuan utama dari perjalanan ini adalah merundingkan implementasi perjanjian perdagangan yang sebelumnya telah disepakati dan menemukan solusi untuk mengurangi beban tarif yang baru diberlakukan.
Menurut sumber berita, Korea Selatan bertujuan untuk menunjukkan komitmen seriusnya dalam menegakkan kesepakatan perdagangan bilateral dengan AS. Kunjungan diplomatik ini diharapkan menjadi momentum penting untuk membuka dialog konstruktif antara kedua negara dan mencegah eskalasi lebih lanjut dalam perang tarif.
Perjalanan duta perdagangan Korea Selatan mengunjungi AS mencerminkan upaya keras Seoul untuk mempertahankan hubungan dagang yang stabil dengan mitra dagang terpentingnya, sambil mencoba menekan Majelis Nasional untuk segera meratifikasi perjanjian yang sudah disepakati.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Duta Perdagangan Korea Selatan Mengunjungi AS Untuk Merundingkan Peningkatan Tarif
Perkembangan terbaru menunjukkan peningkatan ketegangan perdagangan antara Korea Selatan dan Amerika Serikat. Pemerintah Korea Selatan mengumumkan bahwa duta perdagangannya akan segera mengunjungi AS untuk membicarakan dampak dari keputusan tarif baru yang baru saja diumumkan oleh Presiden Trump.
Trump Naikkan Tarif pada Produk Korea Selatan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada 27 Januari peningkatan besar dalam tarif impor dari Korea Selatan. Kebijakan ini merupakan reaksi Trump atas kegagalan Majelis Nasional Korea Selatan dalam meratifikasi kesepakatan perdagangan yang telah disepakati sebelumnya.
Trump menyatakan bahwa tarif pada produk-produk Korea Selatan akan dinaikkan dari 15 persen menjadi 25 persen. Produk yang terdampak meliputi sektor strategis seperti otomotif, kayu, industri farmasi, dan berbagai barang manufaktur lainnya. Keputusan ini menjadi langkah paling agresif Trump dalam menghadapi negara sekutu tradisional AS di kawasan Asia Timur.
Latar Belakang Kesepakatan yang Belum Diratifikasi
Perselisihan ini bermula dari kesepakatan perdagangan yang ditandatangani antara Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung pada 30 Juli 2025. Kesepakatan ini didukung lebih lanjut saat Trump mengunjungi Korea Selatan pada 29 Oktober 2025 untuk menegaskan komitmen kedua belah pihak. Namun, Majelis Nasional Korea Selatan sampai saat ini belum meloloskan pengesahan atas perjanjian bersejarah tersebut.
Trump mengkritik penundaan ini, menganggapnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap kesepakatan yang telah dicapai secara bilateral. Ketegangan ini mencerminkan dinamika perdagangan global yang semakin kompleks, di mana negara maju saling menggunakan tarif sebagai instrumen negosiasi.
Kunjungan Diplomatik Korea Selatan
Menghadapi eskalasi tarif ini, Korea Selatan memilih jalur diplomasi dengan mengutus duta perdagangannya untuk mengunjungi Washington. Tujuan utama dari perjalanan ini adalah merundingkan implementasi perjanjian perdagangan yang sebelumnya telah disepakati dan menemukan solusi untuk mengurangi beban tarif yang baru diberlakukan.
Menurut sumber berita, Korea Selatan bertujuan untuk menunjukkan komitmen seriusnya dalam menegakkan kesepakatan perdagangan bilateral dengan AS. Kunjungan diplomatik ini diharapkan menjadi momentum penting untuk membuka dialog konstruktif antara kedua negara dan mencegah eskalasi lebih lanjut dalam perang tarif.
Perjalanan duta perdagangan Korea Selatan mengunjungi AS mencerminkan upaya keras Seoul untuk mempertahankan hubungan dagang yang stabil dengan mitra dagang terpentingnya, sambil mencoba menekan Majelis Nasional untuk segera meratifikasi perjanjian yang sudah disepakati.