Baru-baru ini, Thailand menghadapi serangkaian tantangan terkait stabilitas baht di pasar valuta asing. Pada awal pekan lalu, perkembangan di pasar emas menciptakan tekanan pada nilai tukar, memaksa pihak berwenang untuk mengambil langkah-langkah tegas untuk menstabilkan situasi.
Peningkatan arus masuk mata uang asing dari perdagangan emas
Kenaikan harga emas yang signifikan secara global dikombinasikan dengan melemahnya dolar AS telah menciptakan “badai sempurna” bagi pasar Thailand. Ketika harga emas naik tajam, investor Thailand dengan cepat menjual balok emas mereka, sehingga menciptakan arus masuk modal mata uang asing yang besar ke negara itu. Ini secara langsung memberi tekanan pada baht, menyebabkan mata uang cenderung naik harga tak terkendali.
Bank sentral menegaskan kemampuan mereka untuk mengelola
Pada 30 Januari, Chayawadee Chai-Anant, Wakil Gubernur Bank of Thailand, mengumumkan di Bangkok bahwa negara tersebut memiliki kapasitas untuk mengelola kurs baht. Meskipun daftar pengawasan mata uang AS memantau Thailand untuk potensi manipulasi mata uangnya, dia menekankan bahwa kemungkinan hal ini terjadi sangat rendah. Selain itu, bank sentral berkomitmen untuk mempertahankan komunikasi berkelanjutan dengan Departemen Keuangan AS untuk mengklarifikasi masalah terkait.
Peraturan baru untuk mengontrol perdagangan emas
Untuk mengekang aktivitas spekulatif dan volatilitas baht, bank sentral memperketat peraturan untuk perdagangan emas online. Aturan baru, yang mulai berlaku pada 1 Maret, mencakup persyaratan pembayaran dan pelaporan yang lebih ketat. Oleh karena itu, platform online dilarang melakukan pembayaran bersih dan short selling, sedangkan investor hanya diperbolehkan menjual emas fisik yang sebenarnya mereka pegang. Selain itu, semua transaksi emas harus dibayar melalui sistem elektronik, dan pembayaran tunai dilarang sama sekali.
Langkah-langkah ini tidak hanya membantu menstabilkan baht tetapi juga mengurangi risiko spekulatif di pasar emas Thailand, dan menunjukkan tekad bank sentral untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Thailand Menghadapi Volatilitas Baht di Tengah Tekanan dari Pasar Emas
Baru-baru ini, Thailand menghadapi serangkaian tantangan terkait stabilitas baht di pasar valuta asing. Pada awal pekan lalu, perkembangan di pasar emas menciptakan tekanan pada nilai tukar, memaksa pihak berwenang untuk mengambil langkah-langkah tegas untuk menstabilkan situasi.
Peningkatan arus masuk mata uang asing dari perdagangan emas
Kenaikan harga emas yang signifikan secara global dikombinasikan dengan melemahnya dolar AS telah menciptakan “badai sempurna” bagi pasar Thailand. Ketika harga emas naik tajam, investor Thailand dengan cepat menjual balok emas mereka, sehingga menciptakan arus masuk modal mata uang asing yang besar ke negara itu. Ini secara langsung memberi tekanan pada baht, menyebabkan mata uang cenderung naik harga tak terkendali.
Bank sentral menegaskan kemampuan mereka untuk mengelola
Pada 30 Januari, Chayawadee Chai-Anant, Wakil Gubernur Bank of Thailand, mengumumkan di Bangkok bahwa negara tersebut memiliki kapasitas untuk mengelola kurs baht. Meskipun daftar pengawasan mata uang AS memantau Thailand untuk potensi manipulasi mata uangnya, dia menekankan bahwa kemungkinan hal ini terjadi sangat rendah. Selain itu, bank sentral berkomitmen untuk mempertahankan komunikasi berkelanjutan dengan Departemen Keuangan AS untuk mengklarifikasi masalah terkait.
Peraturan baru untuk mengontrol perdagangan emas
Untuk mengekang aktivitas spekulatif dan volatilitas baht, bank sentral memperketat peraturan untuk perdagangan emas online. Aturan baru, yang mulai berlaku pada 1 Maret, mencakup persyaratan pembayaran dan pelaporan yang lebih ketat. Oleh karena itu, platform online dilarang melakukan pembayaran bersih dan short selling, sedangkan investor hanya diperbolehkan menjual emas fisik yang sebenarnya mereka pegang. Selain itu, semua transaksi emas harus dibayar melalui sistem elektronik, dan pembayaran tunai dilarang sama sekali.
Langkah-langkah ini tidak hanya membantu menstabilkan baht tetapi juga mengurangi risiko spekulatif di pasar emas Thailand, dan menunjukkan tekad bank sentral untuk menjaga stabilitas makroekonomi.