Ada sebuah kisah yang jarang diceritakan secara lengkap, yaitu tentang seorang pria yang hampir tidak memiliki apa-apa kecuali satu hal: tekad. Sylvester Stallone tiba di New York dengan tubuh yang ditandai oleh paralisis wajah parsial, suara serak, dan kantong kosong. Tidak ada yang menginginkannya. Para aktor memiliki wajah simetris, suara jernih, pesona tanpa hambatan. Dia tidak. Dia memiliki semuanya sebaliknya.
Ketika tidak tersisa apa-apa, yang tersisa hanyalah siapa dirimu sebenarnya
Selama berminggu-minggu, Stallone tidur di jalan bersama anjingnya, Butkus. Kelaparan nyata. Dingin juga. Tapi saat terburuk datang ketika keputusasaan memaksanya melakukan yang tak terpikirkan: dia harus menjual Butkus seharga 25 dolar kepada orang asing. Itu adalah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri yang menghancurkannya. Itu bukan sekadar anjing. Itu satu-satunya teman, satu-satunya confidant selama hari-hari tergelap.
Inspirasi datang saat kamu paling tidak menyangka
Suatu sore, dia melihat Muhammad Ali bertarung dan sesuatu di dalam dirinya menyala. Bukan tentang tinju yang menarik perhatiannya, tetapi semangat dari orang yang menolak menyerah. Dalam waktu hanya tiga hari, dia menulis skenario Rocky. Itu satu-satunya hal yang dia miliki yang berharga: sebuah kisah yang ditulis dalam keputusasaan, sebuah kisah tentang ketahanan.
Ketika para produser datang dengan uang, Stallone memahami harga martabatnya. Mereka menginginkan skenario itu, ya, tetapi dengan aktor lain di peran utama. Stallone menolak tawaran itu. Dia tidak menjual Rocky untuk menjadi kaya. Dia menulisnya untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia bisa melawan takdirnya sendiri, bukan membiarkan orang lain melawan takdirnya.
Kemenangan sejati tak ternilai
Rocky menjadi sebuah karya agung. Tiga Oscar, ratusan juta dolar dalam pendapatan, sebuah saga yang mengubah perfilman dan menghasilkan lebih dari 200 juta dolar untuk Stallone. Tapi hadiah sejati berbeda. Dengan pendapatan pertama, dia melakukan sesuatu yang sakral baginya: menemukan pria yang memiliki Butkus. Dia memohon, bernegosiasi, bersikeras. Akhirnya dia membayar 15.000 dolar untuk mendapatkan kembali anjingnya. Butkus tidak hanya kembali kepadanya, tetapi juga menjadi teman mainnya dalam film.
Pertempuran sejati Sylvester Stallone bukanlah melawan produser Hollywood. Itu melawan gagasan bahwa seseorang seperti dia—yang ditandai, miskin, dengan suara aneh dan tatapan kaku—harus menerima sewa orang lain. Sebaliknya, dia menciptakan miliknya sendiri. Dan ketika akhirnya dia bisa, dia pergi untuk mendapatkan kembali apa yang mewakili nilai terdalamnya: kesetiaan, cinta tanpa syarat, kesetiaan kepada mereka yang ada saat dia hanya memiliki kekosongan. Inilah kisah sejati tentang orang yang memilih dirinya sendiri, bahkan ketika dunia mengatakan bahwa dia tidak berharga.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Sylvester Stallone: Ketika keberanian menjadi alat yang paling kuat
Ada sebuah kisah yang jarang diceritakan secara lengkap, yaitu tentang seorang pria yang hampir tidak memiliki apa-apa kecuali satu hal: tekad. Sylvester Stallone tiba di New York dengan tubuh yang ditandai oleh paralisis wajah parsial, suara serak, dan kantong kosong. Tidak ada yang menginginkannya. Para aktor memiliki wajah simetris, suara jernih, pesona tanpa hambatan. Dia tidak. Dia memiliki semuanya sebaliknya.
Ketika tidak tersisa apa-apa, yang tersisa hanyalah siapa dirimu sebenarnya
Selama berminggu-minggu, Stallone tidur di jalan bersama anjingnya, Butkus. Kelaparan nyata. Dingin juga. Tapi saat terburuk datang ketika keputusasaan memaksanya melakukan yang tak terpikirkan: dia harus menjual Butkus seharga 25 dolar kepada orang asing. Itu adalah pengkhianatan terhadap dirinya sendiri yang menghancurkannya. Itu bukan sekadar anjing. Itu satu-satunya teman, satu-satunya confidant selama hari-hari tergelap.
Inspirasi datang saat kamu paling tidak menyangka
Suatu sore, dia melihat Muhammad Ali bertarung dan sesuatu di dalam dirinya menyala. Bukan tentang tinju yang menarik perhatiannya, tetapi semangat dari orang yang menolak menyerah. Dalam waktu hanya tiga hari, dia menulis skenario Rocky. Itu satu-satunya hal yang dia miliki yang berharga: sebuah kisah yang ditulis dalam keputusasaan, sebuah kisah tentang ketahanan.
Ketika para produser datang dengan uang, Stallone memahami harga martabatnya. Mereka menginginkan skenario itu, ya, tetapi dengan aktor lain di peran utama. Stallone menolak tawaran itu. Dia tidak menjual Rocky untuk menjadi kaya. Dia menulisnya untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa dia bisa melawan takdirnya sendiri, bukan membiarkan orang lain melawan takdirnya.
Kemenangan sejati tak ternilai
Rocky menjadi sebuah karya agung. Tiga Oscar, ratusan juta dolar dalam pendapatan, sebuah saga yang mengubah perfilman dan menghasilkan lebih dari 200 juta dolar untuk Stallone. Tapi hadiah sejati berbeda. Dengan pendapatan pertama, dia melakukan sesuatu yang sakral baginya: menemukan pria yang memiliki Butkus. Dia memohon, bernegosiasi, bersikeras. Akhirnya dia membayar 15.000 dolar untuk mendapatkan kembali anjingnya. Butkus tidak hanya kembali kepadanya, tetapi juga menjadi teman mainnya dalam film.
Pertempuran sejati Sylvester Stallone bukanlah melawan produser Hollywood. Itu melawan gagasan bahwa seseorang seperti dia—yang ditandai, miskin, dengan suara aneh dan tatapan kaku—harus menerima sewa orang lain. Sebaliknya, dia menciptakan miliknya sendiri. Dan ketika akhirnya dia bisa, dia pergi untuk mendapatkan kembali apa yang mewakili nilai terdalamnya: kesetiaan, cinta tanpa syarat, kesetiaan kepada mereka yang ada saat dia hanya memiliki kekosongan. Inilah kisah sejati tentang orang yang memilih dirinya sendiri, bahkan ketika dunia mengatakan bahwa dia tidak berharga.