Topik suku bunga menjadi salah satu yang paling kontroversial dalam ekonomi Amerika Serikat. Di satu sisi, Presiden AS menegaskan perlunya penurunan agresif suku bunga. Di sisi lain, pelaku pasar dan para ahli ekonomi tetap skeptis terhadap kemungkinan realisasi rencana tersebut.
Tuntutan ambisius presiden dan reaksi dingin dari sektor keuangan
Presiden AS menyatakan posisi yang jelas: suku bunga di AS harus menjadi salah satu yang terendah di dunia, dan idealnya — di level 1%. Namun, tuntutan ini menghadapi hambatan signifikan. Dengan tingkat inflasi sekitar 2%, suku bunga seperti itu akan menghasilkan suku bunga riil negatif, yang menimbulkan risiko ekonomi besar bagi sistem moneter.
Reaksi Wall Street menunjukkan bahwa para profesional pasar tidak berbagi optimisme dari kepala bank sentral. Berdasarkan data yang dipublikasikan CNBC pada Januari, para ahli yang disurvei memperkirakan hanya akan terjadi penyesuaian kecil pada suku bunga dana federal dalam dua tahun ke depan. Prediksi ini sejalan dengan harga yang dikutip oleh pelaku pasar di pasar berjangka, yang menunjukkan bahwa pasar meragukan kemungkinan pergeseran besar dalam kebijakan moneter.
Apa yang diharapkan pasar: penurunan moderat alih-alih revolusi
Menurut ekspektasi pasar, pada tahun 2026 diperkirakan akan terjadi dua kali pemotongan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin, sehingga totalnya akan mencapai 50 basis poin. Konsensus memperkirakan bahwa di titik ini, laju penurunan suku bunga akan berhenti, dan pada tahun 2027 tidak akan ada perubahan. Dengan demikian, suku bunga dana federal akan stabil di sekitar 3% dan dipertahankan di level ini selama beberapa tahun ke depan.
Skenario ini sangat berbeda dari tuntutan yang diajukan presiden. Alih-alih penurunan langsung ke 1%, pasar memproyeksikan penurunan bertahap hingga 3%, yang tetap jauh lebih tinggi dari keinginan presiden. Perbedaan ini mencerminkan ketidaksepakatan mendalam mengenai prioritas ekonomi.
Logika ekonomi di balik skeptisisme pasar
Posisi pasar tidaklah tanpa alasan. Para ahli memahami bahwa penurunan tajam suku bunga dalam lingkungan inflasi 2% akan menyebabkan suku bunga riil negatif — fenomena yang biasanya terjadi dalam kondisi krisis ekonomi, bukan pertumbuhan yang stabil. Keputusan semacam ini dapat memicu gelombang ketidakstabilan harga baru dan meningkatkan risiko sistem keuangan.
Tuntutan presiden, meskipun ambisius, bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu ekonomi dan praktik bank sentral di seluruh dunia. Konsensus pasar mencerminkan pemahaman bahwa kebijakan moneter harus tetap terkait dengan kondisi makroekonomi riil, bukan keinginan politik. Dalam konteks ini, penyesuaian suku bunga yang moderat tampaknya menjadi skenario paling realistis dalam jangka pendek.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Permintaan Trump terkait suku bunga rendah menghadapi perlawanan pasar
Topik suku bunga menjadi salah satu yang paling kontroversial dalam ekonomi Amerika Serikat. Di satu sisi, Presiden AS menegaskan perlunya penurunan agresif suku bunga. Di sisi lain, pelaku pasar dan para ahli ekonomi tetap skeptis terhadap kemungkinan realisasi rencana tersebut.
Tuntutan ambisius presiden dan reaksi dingin dari sektor keuangan
Presiden AS menyatakan posisi yang jelas: suku bunga di AS harus menjadi salah satu yang terendah di dunia, dan idealnya — di level 1%. Namun, tuntutan ini menghadapi hambatan signifikan. Dengan tingkat inflasi sekitar 2%, suku bunga seperti itu akan menghasilkan suku bunga riil negatif, yang menimbulkan risiko ekonomi besar bagi sistem moneter.
Reaksi Wall Street menunjukkan bahwa para profesional pasar tidak berbagi optimisme dari kepala bank sentral. Berdasarkan data yang dipublikasikan CNBC pada Januari, para ahli yang disurvei memperkirakan hanya akan terjadi penyesuaian kecil pada suku bunga dana federal dalam dua tahun ke depan. Prediksi ini sejalan dengan harga yang dikutip oleh pelaku pasar di pasar berjangka, yang menunjukkan bahwa pasar meragukan kemungkinan pergeseran besar dalam kebijakan moneter.
Apa yang diharapkan pasar: penurunan moderat alih-alih revolusi
Menurut ekspektasi pasar, pada tahun 2026 diperkirakan akan terjadi dua kali pemotongan suku bunga masing-masing sebesar 25 basis poin, sehingga totalnya akan mencapai 50 basis poin. Konsensus memperkirakan bahwa di titik ini, laju penurunan suku bunga akan berhenti, dan pada tahun 2027 tidak akan ada perubahan. Dengan demikian, suku bunga dana federal akan stabil di sekitar 3% dan dipertahankan di level ini selama beberapa tahun ke depan.
Skenario ini sangat berbeda dari tuntutan yang diajukan presiden. Alih-alih penurunan langsung ke 1%, pasar memproyeksikan penurunan bertahap hingga 3%, yang tetap jauh lebih tinggi dari keinginan presiden. Perbedaan ini mencerminkan ketidaksepakatan mendalam mengenai prioritas ekonomi.
Logika ekonomi di balik skeptisisme pasar
Posisi pasar tidaklah tanpa alasan. Para ahli memahami bahwa penurunan tajam suku bunga dalam lingkungan inflasi 2% akan menyebabkan suku bunga riil negatif — fenomena yang biasanya terjadi dalam kondisi krisis ekonomi, bukan pertumbuhan yang stabil. Keputusan semacam ini dapat memicu gelombang ketidakstabilan harga baru dan meningkatkan risiko sistem keuangan.
Tuntutan presiden, meskipun ambisius, bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu ekonomi dan praktik bank sentral di seluruh dunia. Konsensus pasar mencerminkan pemahaman bahwa kebijakan moneter harus tetap terkait dengan kondisi makroekonomi riil, bukan keinginan politik. Dalam konteks ini, penyesuaian suku bunga yang moderat tampaknya menjadi skenario paling realistis dalam jangka pendek.