Memasuki 2026, para peramal ekonomi dan analis Wall Street sepakat bahwa penunjukan ketua Federal Reserve baru oleh Presiden Donald Trump tidak akan mendorong penurunan suku bunga secara dramatis seperti yang diharapkan. Survei terkini menunjukkan bahwa ekspektasi pasar jauh lebih konservatif dibandingkan dengan ambisi kepemimpinan baru di gedung Putih, menciptakan kesenjangan signifikan antara target kebijakan dan realitas pasar.
Survei Pasar Menunjukkan Skeptisisme terhadap Target Presiden
Menurut CNBC, yang mengutip analisis BlockBeats, responden survei hanya mengantisipasi perubahan minimal pada suku bunga federal funds dalam dua tahun mendatang. Proyeksi peramal dan profesional finansial menunjukkan ekspektasi rata-rata dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026, menghasilkan total 50 basis poin untuk tahun ini. Data futures federal funds juga sejalan dengan kesimpulan ini, memastikan bahwa baik institusi keuangan maupun peramal independen tidak yakin kepemimpinan Fed baru akan menuruti permintaan presiden untuk penurunan yang lebih agresif.
Peramal memprediksi suku bunga federal funds akan tetap stabil di sekitar level 3% sepanjang 2026 dan dipertahankan hingga akhir 2027 tanpa pemotongan tambahan. Proyeksi ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa perubahan kepemimpinan di Federal Reserve tidak akan mengubah trajectory kebijakan moneter yang sudah ditetapkan.
Perbedaan Antara Target Trump dan Kenyataan Pasar
Presiden Trump telah secara terbuka menyuarakan keinginan agar suku bunga AS menjadi yang terendah di dunia dan mendesakagar Federal Reserve menurunkan suku bunga menjadi 1%. Namun, peramal ekonomi memandang target ini sebagai tidak realistis dalam jangka pendek, terutama mengingat tingkat inflasi yang masih berada di sekitar 2%. Permintaan ini secara matematis menyiratkan suku bunga riil negatif, suatu kondisi yang jarang diterima oleh pembuat kebijakan moneter karena dampak ekonomi jangka panjangnya.
Kesenjangan antara ambisi presiden dan konservatisme peramal mencerminkan dinamika kompleks dalam mengelola ekspektasi pasar dan stabilitas ekonomi yang lebih luas.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Peramal Ekonomi Proyeksikan Perubahan Suku Bunga Federal Reserve Terbatas di 2026
Memasuki 2026, para peramal ekonomi dan analis Wall Street sepakat bahwa penunjukan ketua Federal Reserve baru oleh Presiden Donald Trump tidak akan mendorong penurunan suku bunga secara dramatis seperti yang diharapkan. Survei terkini menunjukkan bahwa ekspektasi pasar jauh lebih konservatif dibandingkan dengan ambisi kepemimpinan baru di gedung Putih, menciptakan kesenjangan signifikan antara target kebijakan dan realitas pasar.
Survei Pasar Menunjukkan Skeptisisme terhadap Target Presiden
Menurut CNBC, yang mengutip analisis BlockBeats, responden survei hanya mengantisipasi perubahan minimal pada suku bunga federal funds dalam dua tahun mendatang. Proyeksi peramal dan profesional finansial menunjukkan ekspektasi rata-rata dua kali pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 2026, menghasilkan total 50 basis poin untuk tahun ini. Data futures federal funds juga sejalan dengan kesimpulan ini, memastikan bahwa baik institusi keuangan maupun peramal independen tidak yakin kepemimpinan Fed baru akan menuruti permintaan presiden untuk penurunan yang lebih agresif.
Peramal memprediksi suku bunga federal funds akan tetap stabil di sekitar level 3% sepanjang 2026 dan dipertahankan hingga akhir 2027 tanpa pemotongan tambahan. Proyeksi ini mencerminkan kekhawatiran pasar bahwa perubahan kepemimpinan di Federal Reserve tidak akan mengubah trajectory kebijakan moneter yang sudah ditetapkan.
Perbedaan Antara Target Trump dan Kenyataan Pasar
Presiden Trump telah secara terbuka menyuarakan keinginan agar suku bunga AS menjadi yang terendah di dunia dan mendesakagar Federal Reserve menurunkan suku bunga menjadi 1%. Namun, peramal ekonomi memandang target ini sebagai tidak realistis dalam jangka pendek, terutama mengingat tingkat inflasi yang masih berada di sekitar 2%. Permintaan ini secara matematis menyiratkan suku bunga riil negatif, suatu kondisi yang jarang diterima oleh pembuat kebijakan moneter karena dampak ekonomi jangka panjangnya.
Kesenjangan antara ambisi presiden dan konservatisme peramal mencerminkan dinamika kompleks dalam mengelola ekspektasi pasar dan stabilitas ekonomi yang lebih luas.