Dalam Convergence 2025, Vitalik Buterin kembali mengangkat isu krusial yang mengancam fondasi industri crypto: pertarungan antara sentralisasi dan desentralisasi. Sang pendiri Ethereum menekankan bahwa kompromi terhadap prinsip open source bukan sekadar keputusan teknis, melainkan langkah yang dapat mengubah DNA proyek crypto secara fundamental. Menurut laporan NS3.AI, Buterin menjelaskan bagaimana integrasi komponen terpusat—seperti server tertutup dan infrastruktur proprietary—secara perlahan mengikis nilai-nilai inti yang menjadi alasan kelahiran teknologi blockchain.
Erosi Transparansi Melalui Sentralisasi
Ketika proyek crypto mulai mengadopsi arsitektur yang lebih sentralisasi, transparansi—pilar utama desentralisasi—menjadi korban pertama. Penutupan kode sumber dan penggunaan server tertutup tidak hanya menyembunyikan mekanisme operasional dari publik, tetapi juga menciptakan “black box” dalam ekosistem yang seharusnya transparan. Hal ini secara fundamental bertentangan dengan prinsip desentralisasi yang menjanjikan akses dan verifikasi penuh bagi semua stakeholder. Risiko terbesar adalah pengguna kehilangan kemampuan untuk mengaudit, memahami, dan mempercayai sistem yang mereka gunakan.
Ancaman Pengambilalihan Jangka Panjang
Buterin juga memperingatkan konsekuensi sistemik: infiltrasi sentralisasi ke dalam proyek crypto membuka pintu bagi kelompok kepentingan terpusat untuk mengambil kontrol. Ketika komponen kritis dikontrol oleh entitas tunggal atau segelintir pihak, proyek kehilangan mekanisme self-governance yang menjadi keunggulan blockchain. Dalam jangka panjang, model ini menciptakan vulnerability yang sama dengan sistem finansial tradisional—bergantung pada kepercayaan terhadap satu pihak pusat, bukan pada protokol dan mekanisme konsensus. Ini membuktikan bahwa sentralisasi bukan sekedar masalah teknis, melainkan ancaman eksistensial bagi visi original cryptocurrency sebagai sistem terdesentralisasi dan bebas dari kontrol terpusat.
Pesan Buterin jelas: proyek yang berkompromi dengan desentralisasi demi efisiensi atau kemudahan sebenarnya mengorbankan proposisi nilai fundamental mereka—dan itulah risiko yang tidak boleh diabaikan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Vitalik Buterin Peringatkan Risiko Sentralisasi dalam Proyek Cryptocurrency Modern
Dalam Convergence 2025, Vitalik Buterin kembali mengangkat isu krusial yang mengancam fondasi industri crypto: pertarungan antara sentralisasi dan desentralisasi. Sang pendiri Ethereum menekankan bahwa kompromi terhadap prinsip open source bukan sekadar keputusan teknis, melainkan langkah yang dapat mengubah DNA proyek crypto secara fundamental. Menurut laporan NS3.AI, Buterin menjelaskan bagaimana integrasi komponen terpusat—seperti server tertutup dan infrastruktur proprietary—secara perlahan mengikis nilai-nilai inti yang menjadi alasan kelahiran teknologi blockchain.
Erosi Transparansi Melalui Sentralisasi
Ketika proyek crypto mulai mengadopsi arsitektur yang lebih sentralisasi, transparansi—pilar utama desentralisasi—menjadi korban pertama. Penutupan kode sumber dan penggunaan server tertutup tidak hanya menyembunyikan mekanisme operasional dari publik, tetapi juga menciptakan “black box” dalam ekosistem yang seharusnya transparan. Hal ini secara fundamental bertentangan dengan prinsip desentralisasi yang menjanjikan akses dan verifikasi penuh bagi semua stakeholder. Risiko terbesar adalah pengguna kehilangan kemampuan untuk mengaudit, memahami, dan mempercayai sistem yang mereka gunakan.
Ancaman Pengambilalihan Jangka Panjang
Buterin juga memperingatkan konsekuensi sistemik: infiltrasi sentralisasi ke dalam proyek crypto membuka pintu bagi kelompok kepentingan terpusat untuk mengambil kontrol. Ketika komponen kritis dikontrol oleh entitas tunggal atau segelintir pihak, proyek kehilangan mekanisme self-governance yang menjadi keunggulan blockchain. Dalam jangka panjang, model ini menciptakan vulnerability yang sama dengan sistem finansial tradisional—bergantung pada kepercayaan terhadap satu pihak pusat, bukan pada protokol dan mekanisme konsensus. Ini membuktikan bahwa sentralisasi bukan sekedar masalah teknis, melainkan ancaman eksistensial bagi visi original cryptocurrency sebagai sistem terdesentralisasi dan bebas dari kontrol terpusat.
Pesan Buterin jelas: proyek yang berkompromi dengan desentralisasi demi efisiensi atau kemudahan sebenarnya mengorbankan proposisi nilai fundamental mereka—dan itulah risiko yang tidak boleh diabaikan.