Menurut survei terbaru dari perusahaan analisis aset kripto Chainalysis, pada tahun 2025, dana senilai hingga 17 miliar dolar hilang akibat penipuan dan kejahatan terkait mata uang virtual. Alih-alih hacking konvensional, penipuan yang memanfaatkan metode impersonasi dan AI mulai menjadi arus utama, membawa ancaman serius bagi seluruh industri.
Evolusi Cepat Metode Penipuan: Profitabilitas Lebih dari 4 Kali Lipat dengan Munculnya AI
Para pelaku kejahatan mengadopsi teknologi AI canggih untuk mengorganisasi metode menargetkan korban. Dalam laporan Chainalysis, ditemukan bahwa penipuan yang dihasilkan AI memiliki profitabilitas 4,5 kali lipat dibandingkan metode penipuan tradisional. Dengan deepfake dan alat otomatisasi, para penipu kini mampu memproduksi informasi palsu secara masif dan rumit, seperti “petugas dukungan”, “pemberitahuan dari pemerintah”, dan “orang dalam yang dipercaya”.
Evolusi teknologi ini telah mengubah penipuan kripto dari kejahatan individual menjadi industri yang sangat terorganisasi. Berdasarkan analisis data, jumlah kerugian rata-rata juga meningkat secara signifikan, menunjukkan bahwa pelaku kejahatan beralih dari strategi “tembak dulu, tanya kemudian” ke target bernilai tinggi.
Penipuan impersonasi Melonjak 1400%—Contoh Kasus Nyata
Pertumbuhan penipuan impersonasi sangat mencengangkan. Chainalysis melaporkan peningkatan sebesar 1.400% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya masalah serius yang tidak lagi bersifat pengecualian, tetapi menjadi tantangan besar bagi seluruh industri.
Dalam sebuah kasus di Inggris pada tahun 2025, seorang pria menjadi korban penipuan Bitcoin hampir senilai 2,5 juta dolar. Penipuan ini, yang dianggap sebagai “tren baru yang perlu diwaspadai” oleh polisi, memanfaatkan teknik rekayasa sosial dan secara cerdik mengeksploitasi psikologi manusia seperti “ketakutan” dan “kepanikan”. Bahkan pemilik yang berhati-hati pun bisa tertipu oleh keahlian penipu ini.
Lebih parah lagi, skala kerugiannya sangat besar. Menurut laporan dari departemen siber North Wales, antara tahun 2020 hingga akhir 2023, sekitar 100.000 orang di Inggris menjadi korban penipuan investasi, dengan total kerugian mencapai 2,6 miliar poundsterling (sekitar 3,5 miliar dolar). Ini setara dengan kerugian sekitar 13 juta poundsterling (17,5 juta dolar) per minggu, sebuah angka yang mengagumkan. Namun, angka ini hanya mencakup penipuan yang dilaporkan, dan angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.
Chainalysis Memberi Peringatan: Kepercayaan Manusia Menjadi Target Baru
Hacking tetap menjadi ancaman yang berkelanjutan. Data Chainalysis menunjukkan bahwa sekitar 2,2 miliar dolar dicuri pada tahun 2024. Namun, penipuan lebih sulit diperbaiki dibandingkan kontrak pintar yang rentan, karena bergantung pada kelemahan mendasar yaitu kepercayaan manusia.
Lior Aizik, salah satu pendiri dan Chief Operating Officer (COO) dari platform pertukaran aset kripto XBO, menegaskan bahwa tren ini nyata. “Seluruh industri kripto mengalami peningkatan dan penguatan penipuan impersonasi. Pengguna harus ingat bahwa mereka tidak boleh membagikan informasi rahasia kepada staf dukungan resmi,” ujarnya.
Aizik sendiri pernah menjadi korban impersonasi beberapa kali. Penipu menggunakan namanya dan menghubungi pihak terkait dengan profil palsu, mengaku mewakili XBO dan menuntut uang. “Serangan ini bukan soal teknologi, tetapi memanfaatkan urgensi dan kepercayaan,” jelasnya.
Para Ahli Industri Juga Khawatir—Perlunya Penguatan Langkah Pencegahan
Data Chainalysis menunjukkan bahwa kejahatan kripto kini tidak lagi sekadar pelanggaran atau penyalahgunaan. Bahkan jika dompet dan bursa menerapkan langkah keamanan yang tepat, penipuan yang tampak meyakinkan tetap sulit dilawan.
Para ahli industri memperingatkan pengguna agar waspada terhadap pesan yang mengandung urgensi dan kerahasiaan. “Jangan pernah mengirimkan kripto kepada siapa pun. Pesan seperti itu biasanya tanda bahaya,” kata mereka.
Profitabilitas tinggi dari penipuan berbasis AI dan melonjaknya metode impersonasi membuat penciptaan lingkungan yang aman untuk aset kripto semakin sulit. Kesadaran individu dan penguatan langkah pencegahan secara industri menjadi keharusan mendesak.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kehilangan 17 miliar dolar akibat penipuan cryptocurrency—penipuan AI dan impersonation meningkat pesat
Menurut survei terbaru dari perusahaan analisis aset kripto Chainalysis, pada tahun 2025, dana senilai hingga 17 miliar dolar hilang akibat penipuan dan kejahatan terkait mata uang virtual. Alih-alih hacking konvensional, penipuan yang memanfaatkan metode impersonasi dan AI mulai menjadi arus utama, membawa ancaman serius bagi seluruh industri.
Evolusi Cepat Metode Penipuan: Profitabilitas Lebih dari 4 Kali Lipat dengan Munculnya AI
Para pelaku kejahatan mengadopsi teknologi AI canggih untuk mengorganisasi metode menargetkan korban. Dalam laporan Chainalysis, ditemukan bahwa penipuan yang dihasilkan AI memiliki profitabilitas 4,5 kali lipat dibandingkan metode penipuan tradisional. Dengan deepfake dan alat otomatisasi, para penipu kini mampu memproduksi informasi palsu secara masif dan rumit, seperti “petugas dukungan”, “pemberitahuan dari pemerintah”, dan “orang dalam yang dipercaya”.
Evolusi teknologi ini telah mengubah penipuan kripto dari kejahatan individual menjadi industri yang sangat terorganisasi. Berdasarkan analisis data, jumlah kerugian rata-rata juga meningkat secara signifikan, menunjukkan bahwa pelaku kejahatan beralih dari strategi “tembak dulu, tanya kemudian” ke target bernilai tinggi.
Penipuan impersonasi Melonjak 1400%—Contoh Kasus Nyata
Pertumbuhan penipuan impersonasi sangat mencengangkan. Chainalysis melaporkan peningkatan sebesar 1.400% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadikannya masalah serius yang tidak lagi bersifat pengecualian, tetapi menjadi tantangan besar bagi seluruh industri.
Dalam sebuah kasus di Inggris pada tahun 2025, seorang pria menjadi korban penipuan Bitcoin hampir senilai 2,5 juta dolar. Penipuan ini, yang dianggap sebagai “tren baru yang perlu diwaspadai” oleh polisi, memanfaatkan teknik rekayasa sosial dan secara cerdik mengeksploitasi psikologi manusia seperti “ketakutan” dan “kepanikan”. Bahkan pemilik yang berhati-hati pun bisa tertipu oleh keahlian penipu ini.
Lebih parah lagi, skala kerugiannya sangat besar. Menurut laporan dari departemen siber North Wales, antara tahun 2020 hingga akhir 2023, sekitar 100.000 orang di Inggris menjadi korban penipuan investasi, dengan total kerugian mencapai 2,6 miliar poundsterling (sekitar 3,5 miliar dolar). Ini setara dengan kerugian sekitar 13 juta poundsterling (17,5 juta dolar) per minggu, sebuah angka yang mengagumkan. Namun, angka ini hanya mencakup penipuan yang dilaporkan, dan angka sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.
Chainalysis Memberi Peringatan: Kepercayaan Manusia Menjadi Target Baru
Hacking tetap menjadi ancaman yang berkelanjutan. Data Chainalysis menunjukkan bahwa sekitar 2,2 miliar dolar dicuri pada tahun 2024. Namun, penipuan lebih sulit diperbaiki dibandingkan kontrak pintar yang rentan, karena bergantung pada kelemahan mendasar yaitu kepercayaan manusia.
Lior Aizik, salah satu pendiri dan Chief Operating Officer (COO) dari platform pertukaran aset kripto XBO, menegaskan bahwa tren ini nyata. “Seluruh industri kripto mengalami peningkatan dan penguatan penipuan impersonasi. Pengguna harus ingat bahwa mereka tidak boleh membagikan informasi rahasia kepada staf dukungan resmi,” ujarnya.
Aizik sendiri pernah menjadi korban impersonasi beberapa kali. Penipu menggunakan namanya dan menghubungi pihak terkait dengan profil palsu, mengaku mewakili XBO dan menuntut uang. “Serangan ini bukan soal teknologi, tetapi memanfaatkan urgensi dan kepercayaan,” jelasnya.
Para Ahli Industri Juga Khawatir—Perlunya Penguatan Langkah Pencegahan
Data Chainalysis menunjukkan bahwa kejahatan kripto kini tidak lagi sekadar pelanggaran atau penyalahgunaan. Bahkan jika dompet dan bursa menerapkan langkah keamanan yang tepat, penipuan yang tampak meyakinkan tetap sulit dilawan.
Para ahli industri memperingatkan pengguna agar waspada terhadap pesan yang mengandung urgensi dan kerahasiaan. “Jangan pernah mengirimkan kripto kepada siapa pun. Pesan seperti itu biasanya tanda bahaya,” kata mereka.
Profitabilitas tinggi dari penipuan berbasis AI dan melonjaknya metode impersonasi membuat penciptaan lingkungan yang aman untuk aset kripto semakin sulit. Kesadaran individu dan penguatan langkah pencegahan secara industri menjadi keharusan mendesak.