Tiget Research: Kekosongan Likuiditas Picu Aksi Jual Tajam—Mengapa Bitcoin Kurang Memiliki Momentum Rebound?

Pasar
Diperbarui: 2026-02-02 08:25

Antara 29 dan 30 Januari, Bitcoin anjlok dari sekitar $87.000 menjadi $81.000 dalam waktu kurang dari 24 jam—penurunan sekitar 7%.

Rebound yang diantisipasi tidak pernah terjadi. Sebaliknya, pasar terus melemah pada 2 Februari. Berdasarkan data terbaru dari Gate, BTC sempat turun ke sekitar $74.500 pagi ini sebelum sedikit pulih ke $77.000.

01 Ikhtisar Pasar: Lebih dari Sekadar Koreksi Harga

Pasar kripto di awal Februari 2026 mengalami gejolak yang jauh melampaui koreksi biasa. Berdasarkan data perdagangan awal 2 Februari, Bitcoin sempat turun di bawah $75.000 sebelum kembali ke sekitar $77.746,86.

Penurunan ini mencerminkan penurunan sekitar 40% dari puncak Bitcoin tahun 2025. Yang lebih mengkhawatirkan, tidak ada tanda-tanda aksi beli panik; justru pasar mengalami kekurangan likuiditas yang terus-menerus.

Selama periode ini, lebih dari 160.000 trader di seluruh dunia mengalami likuidasi. Sehari sebelumnya, jumlahnya bahkan lebih tinggi—420.000 trader—dengan total likuidasi kontrak melampaui $2,5 miliar di seluruh pasar. Penjualan besar-besaran ini tidak hanya terjadi pada Bitcoin; Ethereum, kripto terbesar kedua, juga anjlok lebih dari 11% dan sempat menyentuh $2.256.

Pelacak pasar melaporkan bahwa sejak puncak Oktober 2025, Bitcoin telah kehilangan sekitar $800 miliar dari kapitalisasi pasarnya, sehingga keluar dari daftar sepuluh aset bernilai terbesar di dunia.

02 Kekosongan Likuiditas: Penguat di Balik Penjualan Massal

Berbeda dengan penurunan pada Oktober 2025, kejatuhan Bitcoin kali ini tidak dipicu oleh satu guncangan sistemik. Pasar kekurangan pembeli yang mampu menyerap tekanan jual, sehingga tercipta kekosongan likuiditas klasik.

Tiger Research menyoroti dalam laporannya bahwa volume perdagangan di pasar spot dan futures Bitcoin terus menyusut. Dalam kondisi likuiditas rendah, bahkan guncangan moderat dapat menyebabkan pergerakan harga yang berlebihan.

Pasar tradisional seperti saham dan komoditas biasanya cepat pulih setelah penurunan awal, namun Bitcoin gagal mengikuti pola tersebut. Para analis menyoroti bahwa Bitcoin kini mengalami tekanan dari sisi harga, korelasi pasar, dan kepercayaan investor.

Satu indikator teknikal penting telah ditembus—Bitcoin jatuh di bawah "active realized price" di kisaran $87.000. Metode ini merepresentasikan rata-rata biaya kepemilikan para pelaku pasar aktif. Setelah level ini ditembus, sebagian besar trader aktif berada dalam posisi rugi, sehingga tekanan jual semakin besar.

03 Dua Guncangan: Dampak Gabungan dari Keuangan Tradisional dan Ketidakpastian Kebijakan

Penjualan besar-besaran ini dipicu oleh dua guncangan yang saling berkaitan dan memperbesar volatilitas pasar.

Pertama, pelemahan saham teknologi merembet ke pasar kripto. Laporan laba Q4 Microsoft yang mengecewakan menimbulkan kekhawatiran atas investasi AI yang terlalu panas, menyebabkan Nasdaq anjlok.

Sebagai aset berisiko tinggi, Bitcoin bereaksi tajam. Hal ini menegaskan bahwa korelasi Bitcoin dengan saham teknologi tradisional semakin kuat di masa-masa penuh tekanan.

Kedua, ketidakpastian kebijakan muncul akibat perubahan di Federal Reserve. Beredar rumor bahwa Presiden Trump tengah bersiap menunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed berikutnya.

Warsh dikenal sebagai sosok hawkish, yang secara konsisten menentang pelonggaran kuantitatif selama masa jabatannya sebagai gubernur The Fed dari 2006 hingga 2011. Pasar khawatir jika Warsh terpilih, likuiditas sistem keuangan bisa diperketat.

04 Likuidasi Leverage: Memicu Spiral Penurunan

Leverage berlebihan di pasar semakin memperburuk penurunan. Menurut Coinglass, lebih dari $2,5 miliar kontrak kripto terpaksa dilikuidasi hanya pada 1 Februari, dengan lebih dari 90% merupakan posisi long.

Penjualan paksa ini menciptakan siklus yang berbahaya: penurunan harga memicu likuidasi, yang menyebabkan penjualan lebih lanjut, sehingga semakin banyak likuidasi. Data Glassnode menunjukkan Bitcoin kini telah turun di bawah "True Market Mean" (saat ini di $80.500)—untuk pertama kalinya dalam 30 bulan terakhir.

Secara historis, kehilangan level teknikal kunci ini sering menandai transisi dari pasar bullish ke fase bearish jangka menengah.

05 Perspektif Institusional: Tekanan Jangka Pendek dan Divergensi Jangka Panjang

Di tengah gejolak, perilaku investor sangat bervariasi menurut skala. Data Glassnode mengungkapkan bahwa investor kecil yang memegang kurang dari 10 BTC telah menjual secara konsisten selama lebih dari sebulan.

Sebaliknya, "super whale" yang memegang lebih dari 1.000 BTC diam-diam mengakumulasi koin, menyerap aksi jual panik dari trader ritel. Namun, pembelian besar-besaran ini belum cukup untuk mendorong harga naik, menandakan lemahnya minat beli di pasar saat ini.

Beberapa analis memperingatkan bahwa penurunan saat ini mengingatkan pada crypto winter tahun 2022, dan jika gelembung spekulatif benar-benar pecah, penurunan lebih lanjut bisa terjadi. CEO CryptoQuant mencatat bahwa likuiditas pembeli untuk Bitcoin telah mengering, dan perataan realized market cap mengonfirmasi bahwa modal baru yang dibutuhkan untuk menopang reli bullish telah lenyap.

06 Prospek: Jalur Pemulihan dan Titik Balik Potensial

Terlepas dari tantangan jangka pendek, beberapa faktor struktural tetap mendukung prospek jangka panjang Bitcoin. Tiger Research menyoroti bahwa kebijakan regulasi yang ramah kripto semakin konkret.

Mengizinkan investasi kripto dalam akun pensiun 401(k) dapat membuka potensi inflow hingga $10 triliun. Selain itu, kemajuan pesat dalam legislasi struktur pasar aset digital merupakan sinyal positif.

Dari perspektif kebijakan moneter, bahkan jika Warsh menjadi Ketua The Fed, bank sentral diperkirakan tetap mempertahankan bias pelonggaran secara bertahap. Dalam kolomnya di Wall Street Journal, Warsh menganjurkan pendekatan tengah: pemangkasan suku bunga terbatas dikombinasikan dengan pengurangan neraca.

Bagi pelaku pasar, kesabaran mungkin menjadi kunci di tahap ini. CEO CryptoQuant menyarankan bahwa pasar kemungkinan akan memasuki "rentang konsolidasi lebar" hingga level dasar baru tercapai.

Prospek

Ketika harga Bitcoin sempat turun di bawah $75.000 pada 2 Februari, "super whale" yang memegang lebih dari 1.000 BTC mulai diam-diam mengakumulasi, menyerap koin yang dijual panik oleh investor ritel. Pembelian berskala besar ini berfungsi seperti arus laut dalam—meski belum langsung meredakan volatilitas di permukaan, mereka mengisyaratkan reposisi fundamental di bawah permukaan pasar.

Sementara itu, badai musim dingin di Amerika Serikat menyebabkan output harian penambangan Bitcoin anjlok dari 70–90 koin menjadi hanya 30–40, dengan fluktuasi hash rate dan harga beresonansi seiring dinamika pasar energi. Pasar kini tengah mencari titik keseimbangan baru, dan ketika likuiditas akhirnya kembali, mereka yang bertahan selama badai mungkin akan menentukan lanskap siklus berikutnya.

The content herein does not constitute any offer, solicitation, or recommendation. You should always seek independent professional advice before making any investment decisions. Please note that Gate may restrict or prohibit the use of all or a portion of the Services from Restricted Locations. For more information, please read the User Agreement
Like Konten